Kumpulan Tugas Kuliah | Review | Traveling | Kisah Keluarga & Persahabatan

Wednesday, June 27, 2012

MEDIA BENDA NYATA UNTUK PENYELESAIAN SOAL CERITA MATEMATIKA SISWA DISKALKULIA


Anak kesulitan belajar yaitu anak yang secara nyata mengalami
kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus maupun umum baik disebabkan
oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikologis dasar maupun sebabsebab
lain seperti pembelajaran yang tidak tepat (Yusuf, 2005 : 59). Kesulitan
belajar diklasifikasikan ke dalam dua kelompok. (1) Kesulitan belajar yang
berhubungan dengan perkembangan, yang mencakup gangguan motorik dan
persepsi, kesulitan bahasa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam
penyesuaian perilaku sosial. (2) Kesulitan belajar akademik, menunjuk pada
adanya kegagalan-kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai
dengan kapasitas yang digharapkan. Kegagalan tersebut mencakup
penguasaan keterampilan dalam membaca, menulis dan/atau berhitung.
Anak yang mengalami kesulitan membaca dan menilis dapat
menyebabkan kesulitan belajar berhitung. Salah satu kesulitan belajar
akademik adalah kesulitan belajar berhitung disebut juga diskalkulia, kesulitan
belajar berhitung sebaiknya dideteksi dan ditangani sejak dini agar tidak
menimbulkan kesulitan bagi anak untuk mempelajari berbagai hal dalam
kehidupannya.

Kesulitan belajar berhitung (diskalkulia) merupakan jenis kesulitan
belajar yang paling banyak ditemukan pada anak-anak sekolah dasar
disamping keterampilan membaca, padahal keterampilan membaca dan
berhitung merupakan sarana yang penting untuk menguasai bidang studi
lainnya. Permasalahan belajar sering dialami anak diskalkulia disebabkan oleh
berbagai faktor. Selain faktor internal seperti adanya disfungsi neurologis juga
disebabkan oleh faktor eksternal seperti pengelolaan kegiatan belajar yang
tidak membangkitkan motivasi belajar siswa, reiforcemen yang tidak tepat,
manajemen kelas yang buruk dan metode pembelajaran yang cenderung
menggunakan metode ceramah dan tugas. Faktor-faktor eksternal terjadi
karena ketidaktahuan pendidikan tentang bagaimana memberikan layanan
yang tepat untuk mereka. Ketidaktepatan dalam memberikan pendekatan atau
strategi pembelajaran bisa berakibat buruk terhadap anak. Anak cepat merasa
bosan, tidak ada motivasi belajar, prestasi belajar semakin menurun.
Anak diskalkulia sering mengalami ketidakmampuan dalam belajar
berhitung, geometri, dan menyelesaikan soal-soal cerita. Menurut Rontukahu
(1996) ketidakmampuan anak dalam menyelaesaikan soal-soal cerita
disebabkan karena katidakmampuan mereka dalam melakukan pemahaman
dan berimajinasi. Kesulitan tersebut tampaknya terkait dengan pembelajaran
yang menuntut anak membuat kalimat matematika karena dalam menghadapi
masalah matematika khususnya soal cerita, siswa harus melakukan
pemahaman terlebih dahulu sebagai landasan untuk menentukan pilihan dan
keputusan.

Dalam penyelesaian masalah matematika agar siswa lebih mudah
memahami dan tidak menimbulkan tekanan dalam penyelesaiannya, maka
penyampaian bahan pembelajaran tidaklah cukup di dalam kelas semata, akan
tetapi perlu diimbangi dengan kegiatan-kegiatan belajar diluar kelas serta
penggunaan media pembelajaran yang sesuai agar kegiatan belajar mengajar
dapat menyenangkan dan dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Media
pembelajaran merupakan alat bantu mengajar yang dapat mempertinggi proses
belajar siswa dalam pembelajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat
mempertinggi hasil belajar yang dicapainya.
Dalam proses belajar mengajar kehadiran media menpunyai arti yang
cukup penting karena ketidakjelasan bahan ynag disampaikan dapat dibantu
dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan
disampaikan pada anak didik dapat disederhanakan dengan bentuan media
(Djamarah & Zain, 2006:120). Media dapat mewakili apa yang kurang mampu
diucapkan oleh guru melalui kata-kata atau kalimat. Dengan demikian anak
didik lebih mudah mencerna bahan atau meteri pelajaran daripada tanpa
bantuan media (Djamarah & Zain, 2006:120).
Penggunaan media pembelajaran sangat bergantung pada tujuan
pengajaran, bahan pengajaran, kemudahan memperoleh media yang
diperlukan, kemampuan guru menggunakannya dalam proses pembelajaran
dan kebutuhan siswa termasuk kebutuhan khusus dari siswa tertentu (ABK).
JURNAL PENDIDIKAN LUAR BIASA, APRIL 2008, VOLUME 4,NOMOR 1
40
Media pembelajaran yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran
ada beberapa jenis, salah satunya adalah penggunaan benda-benda nyata.
Menggunakan benda-benda nyata dalam pembelajaran sering kali baik untuk
menampilkan ukuran, suara, gerak-gerik, permukaan serta manfaatnya. Selain
itu siswa dapat melihat langsung benda tersebut tanpa berimajinasi, sehingga
para siswa akan lebih banyak belajar dibanding sekedar melihatnya digambar
atau sekedar berimajinasi. Penggunaan media benda nyata di dalam proses
belajar mengajar bidang studi matematika khususnya soal cerita dapat
membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika (diskalkulia)
lebih mudah memahami dan memecahkan masalah dalam soal cerita tersebut.
Bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar khususnya matematika
(diskalkulia), untuk memecahkan masalah dalam soal ceritra matematika
sangatlah sulit karena soal cerita matematika membutuhkan perhatian dan
pemahaman, anak diskalkulia sulit untuk memahami bahasa atau kalimat
dalam soal cerita sebab ia kurang menguasai keterampilan membaca
pemahaman. Oleh karena itu dengan menggunakan media benda nyata,
diharapkan siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika terutama
dalam soal cerita dapat lebih mudah memahami dan memperhatikan persoalan
yang dimaksudkan tersebut sehingga berpengaruh terhadap kemampuan
memecahkan soal matematika yang berupa soal cerita.
Prevalensi anak kesulitan belajar usia sekolah ada pada suatu
rentangan dari 2% hingga 30% (Lovit dalam Abdurrahman, 2003:08).
Menurut guru-guru sekolah dasar jumlah siswa kesulitan belajar meningkat
karena salah satunya disebabkan oleh proses pembelajaran yang tidak tepat
dan dikatakan juga oleh para orang tua siswa bahwa anak kesulitan belajar
meningkat karena pengaruh perekonomian masyarakat yang menurun akibat
harga barang yang semakin mahal, sehingga keadaan tersebut
mempengaruhi anak dalam belajar. Di samping itu penggunaan media benda
nyata untuk meningkatkan kemampuan penyelesaian soal cerita matematika di
SDN Kedungsumber Balongpanggang Gresik kurang terprogram dengan baik.
Dengan demikian diperlukan suatu alternatif pemecahan kesulitan belajar agar
kesulitan belajar yang terjadi tidak meningkat, diantaranya dengan
penggunaan media benda nyata.
Soal cerita matematika adalah suatu uraian cerita soal yang menuntut
siswa mampu memahami dan menafsirkan pada tiap organisasi pembagian
berita soal yang pemecahannya memerlukan keterampilan dan kejelian
(Susanto dalam Karjito, 2000 : 65). Anak kesulitan belajar adalah anak yang
secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus
maupun umum, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses
psikologis dasar maupun sebab-sebab lain sehingga prestasi belajarnya rendah
(Yusuf M, 2005 : 58).
Menurut Partowisastro (1982:51) diskalkulia (kesulitan belajar
berhitung) adalah kesulitan yang disebabkan karena susunan saraf pusat
tertentu tidak bekerja sebagai mana mestinya, sehingga yang bersangkutan
Desiana, Penggunaan Media Benda Nyata …
41
tidak dapat melakukan pekerjaan matematika (bilangan). Media pembelajaran
adalah alat bantu pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai penyalur
informasi belajar guna mencapai tujuan pembelajaran (Djamarah & Zain,
2006 : 121). Benda nyata atau benda sesungguhnya merupakan suatu obyek
yang dapat memberikan rangsangan yang amat penting bagi siswa dalam
mempelajari berbagai hal terutama yang menyangkut keterampilan tertentu
(Ibrahim & Sukmadinata, 2003:129).
Penggunan benda nyata dalam proses belajar mengajar yang bertujuan
untuk memperkenalkan suatu unit pelajaran tertentu. Dengan menggunakan
benda-benda nyata dalam proses belajar mengajar, dapat meningkatkan
motivasi belajar siswa, sebab benda nyata dapat menarik perhatian siswa
sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dengan demikian melalui
penggunaan media benda nyata dalam penyelesaian soal cerita matematika
tentang perkalian dan pembagian (hasil kali sampai dengan 45), dapat
menarik perhatian dan meningkatkan motivasi belajar siswa dalam
memecahkan masalah soal cerita matematika.
Ketidakmampuan anak diskalkulia dalam penyelesaian soal cerita
matematika disebabkan karena ketidakmampuan anak dalam melakukan
pemahaman dan berimajinasi. Agar anak dalam melakukan pemahaman
tersebut maka diperlukan kegiatan belajar yang dapat membangkitkan
motivasi dan dapat menarik perhatian siswa yaitu dengan menggunakan media
benda nyata. Berdasarkan ketidakmampuan anak diskalkulia dalam melakukan
penyelesaian soal cerita matematika dengan media yang digunakan,
diharapkan mampu meningkatkan kemampuan anak diskalkulia dalam
penyelesaian soal cerita matematika, maka dirumuskan permasalahannya
sebagai berikut : “Adakah pengaruh media benda nyata terhadap
peningkatan kemampuan penyelesaian soal cerita matematika pada anak
kesulitan belajar berhitung (diskalkulia) siswa kelas 2 di SDN Kedungsumber
Balongpanggang Gresik ?”
Adapun tujuan pengkajian ini adalah meningkatkan kemampuan
menyelesaikan soal cerita matematika bagi anak kesulitan belajar berhitung
(diskalkulia) melalui media benda nyata, sedangkan tujuan secara khusus
adalah menganalisis adanya pengaruh media benda nyata terhadap
peningkatan kemampuan penyelesaian soal cerita matematika pada anak
kesulitan belajar berhitung (diskalkulia) siswa kelas 2 di SDN Kedungsumber
Balongpanggang Gresik.
METODE
Penelitian merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk
memperoleh kebenaran pengetahuan yang bersifat ilmiah melalui prosedur
yang telah ditentukan secara metodologis (Wahyudi, 2005 : 115). Dengan
JURNAL PENDIDIKAN LUAR BIASA, APRIL 2008, VOLUME 4,NOMOR 1
42
demikian metode penelitian adalah cara yang ditempuh oleh peneliti dalam
melakukan penelitian secara hati-hati terhadap suatu masalah guna
memperoleh pemecahan dengan melalui prosedur yang telah ditentukan
secara metodologis. Penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimen yang
dilaksanakan pada suatu kelompok tanpa adanya kelompok pembanding.
Dalam penelitian ini kepada unit percobaan dilakukan dua kali pengukuran,
pengukuran pertama dilakukan sebelum perlakuan diberikan dan pengukuran
kedua dilakukan sesudah perlakuan dilaksanakan (Nazir, 2005 : 231).
Rancangan penelitian ini menggunakan pola One Group Pre-Test Post-Test
Design (Wahyudi, 2005:51). Rancangan penelitian tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut :
Keterangan :
TI : Pre Test untuk mengetahui kemampuan menyelesaikan soal cerita
matematika awal, sebelum menggunakan media benda nyata.
X : Treatment atau perlakuan pada subyek yaitu pemberian pembelajaran
matematika soal cerita dengan menggunakan media benda nyata
T2 : Post Test untuk mengukur kemampuan menyelesaikan soal cerita
matematika, setelah diberikan pembelajaran dengan menggunakan
media benda nyata.
Penelitian dilakukan pada kelompok-kelompok murid untuk melihat
kebaikan sistem mengajar dengan menggunakan media benda nyata.
Mengajar dengan menggunakan media benda nyata adalah suatu perlakuan
(X). Pertama-tama diukur rata-rata prestasi belajar dengan mengadakan pre
test sebelum perlakuan dilakukan (T1). Kemudian sesudah perlakuan
dilakukan pengukuran lagi prestasi belajar dengan menggunakan post test
(T2). Kemudian dibuat perbandingan antara rata-rata prestasi belajar T1 dan
T2, untuk melihat bagaimana pengaruh media benda nyata dengan
kemampuan penyelesaian soal cerita matematika.
Sampel penelitiannya adalah semua siswa kesulitan belajar berhitung
(diskalkulia) kelas 2 dengan jumlah murid 5 orang di SDN Kedungsumber
Balongpanggang Gresik, sehingga penelitian ini merupakan penelitian
populasi. Dengan teknik pengumpulan data tes, observasi, wawancara dan
dokumentasi. Hasil pengumpulan data dianalisis dengan menggunakan
statistik non parametrik. Adapun rumus statistik yang digunakan untuk
menganalisis data hasil penelitian ini digunakan teknik “the sign test” atau uji
tanda.
HASIL DAN PEMBAHASAN
TI X T2
Pengukuran
(Pre Test)
Perlakuan
Pengukuran
(Post Test)
Desiana, Penggunaan Media Benda Nyata …
43
Data yang telah diperoleh dalam penelitian ini menggunakan teknik
analisis data statistik non prametrik dengan rumus uji tanda. Teknik ini
digunakan karena syarat normal dan distribusi bebas pada variabel tidak
terpenuhi, dan jumlah sampel penelitian sedikit.
Adapun tabel hasil kerja serta perhitungannya sebagai berikut :
Tabel 1 : Tabel Kerja Hasil Perubahan Tanda Penggunan Media Benda Nyata
untuk Meningkatkan Kemampuan Penyelesaian Soal Cerita Matematika
Siswa Diskalkulia di SDN Kedungsumber Balongpanggang Gresik
Kode
responden
Subyek Penelitian T1 T2
Perubahan
Tanda
01
02
03
04
05
Aldi Miranto
Deki dwi Karisma Y
Yayang Eka Pratiwi
Dita Anjelina F
Figi Deni Santoso
6
4
6
6
6
14
16
12
12
14
+
+
+
+
+
n = 5 T1= 28 T 2 = 68 X = 5
Bila dipergunakan pendekatan kurve normal maka : (Djarwanto, 2003:22).
1. Menghitung Mean
μ = n . p
= 5 . 0,5
= 2,5
2. Menghitung Standart Deviasi
= n . p . q
= 5 . 0,5 . 0,5
= 1,25
= 1,12
Dengan taraf signifikasi 0,05 nilai kritisnya adalah 2,5 + 1,64 (1,12) = 4,34
Dari hasil pengamatan didapat perubahan tanda (+) sebanyak5, dan X
menunjukan jumlah beda yang bertanda positif.
Karena X > μ sehingga dapat dihitung :
Z = ( X + 0,5 ) - μ

= ( 5 + 0,5 ) - 2,5
1,12
JURNAL PENDIDIKAN LUAR BIASA, APRIL 2008, VOLUME 4,NOMOR 1
44
= 5,5 - 2,5
1,12
= 3
1,12
= 2,68
Diketahui pada tabel nilai Z = 1,64 sedangkan hasil perhitungan di
atas diketahui hasil Z = 2,68 hal tersebut berarti nilai Z hitung lebih besar dari
nilai Z tabel yaitu 2,68 > 1,64 dengan demikian pernyataan Ho ditolak dan Ha
diterima, dan dapat disimpulkan bahwa “Penggunaan Media Benda Nyata
dapat Meningkatkan Kemampuan Penyelesaian Soal Cerita Matematika
Siswa Diskalkulia (Kesulitan Belajar Berhitung) di SDN Kedungsumber
Balongpanggang Gresik”
Hasil penelitian dengan menggunakan rumus uji tanda menyatakan
bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, ini berarti menunjukkan bahwa adanya
peningkatan kemampuan penyelesaian soal cerita matematika dengan
menggunakan media benda nyata siswa diskalkulia (kesulitan belajar
berhitung) di SDN Kedungsumber Balongpanggang Gresik. Pernyataan
tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya hasil nilai tes yang diberikan.
Pernyataan tersebut didukung oleh pendapat (Djamarah dan Zain,
2006 : 120) bahwa dalam proses pembelajaran kehadiran media mempunyai
arti yang cukup penting karena ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat
dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Media secara luas
meliputi manusia, benda, atau peristiwa yang memungkinkan siswa
memperoleh pengetahuan dan keterampilan (Djamarah & Zain, 2006 : 120).
Sebagai pendidik kita sadar bahwa tanpa bantuan media, bahan pelajaran
yang disampaikan sukar untuk dicerna dan dipahami oleh setiap siswa. Siswa
cepat merasa bosan yang disebabkan karena penjelasan guru sukar untuk
dipahami. Untuk itu perlu menghadirkan media sebagai alat bantu
pembelajaran guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Salah satu cara untuk mencapai tujuan yang optimal dari proses
pembelajaran digunakan media yang bersifat langsung dalam bentuk objek/
benda nyata (Ibrahim & Syaodih, 2003 : 118), karena dengan benda yang
sesungguhnya akan memberikan rangsangan bagi siswa dalam mempelajari
berbagai hal terutama yang menyangkut pengembangan keterampilan
tertentu, misalnya keterampilan dalam memecahkan masalah.
Dalam proses pembelajaran materi yang membutuhkan pemecahan
masalah salah satunya adalah materi soal cerita matematika. Soal cerita
matematika adalah suatu uraian cerita soal, yang menuntut siswa mampu
memahami dan menafsirkan tiap organisasi bagian cerita soal yang
Desiana, Penggunaan Media Benda Nyata …
45
pemcahannya memerlukan keterampilan dan kejelian (Susanto dalam Karjito,
2000 : 65).
Bagi siswa diskalkulia (kesulitan belajar berhitung) dalam
menyelesaikan soal cerita matematika bukanlah pekerjaan yang mudah
karena anak kesulitan belajar berhitung (diskalkulia) adalah anak yang
mengalami kesulitan dalam melakukan hitungan atau matematika. Untuk itu
diperlukan suatu media yang dapat mempermudah anak kesulitan belajar
berhitung untuk memahami dan menyelesaikan soal cerita matematika.
Penggunaan media benda nyata dalam penyelesaian soal cerita matematika,
dapat menarik perhatian dan meningkatkan motivasi belajar serta
memudahkan siswa dalam mencerna maupun memahami materi soal cerita
sehingga dapat menyelesaikan soal cerita matematika dengan lancar dan lebih
baik. Selain itu berdasarkan hasil wawancara dengan siswa dapat disimpulkan
bahwa dengan media benda nyata siswa akan lebih banyak mengikuti
pelajaran matematika dengan gembira, siswa akan senang, terangsang dan
tertarik terhadap pelajaran matematika, sehingga minatnya terhadap pelajaran
matematika akan semakin besar.
Dilihat dari hasil observasi dapat diketahui bahwa kemampuan
siswa memahami permasalahan dalam soal cerita matematika masih kurang,
tetapi bila menggunakan media benda nyata siswa diskalkulia lebih tertarik
dan termotivasi dalam kegiatan pembelajaran, sehingga dapat merangsang
siswa untuk berfikir, dengan demikian siswa mampu memahami dan
memecahkan masalah dalam soal cerita matematika dengan lebih baik.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat diambil
simpulan bahwa penggunaan media benda nyata dapat meningkatkan
kemampuan penyelesaian soal cerita matematika siswa diskalkulia (kesulitan
belajar berhitung) di SDN Kedungsumber Balongpanggang Gresik. Dengan
demikian dapat disarankan sebagai berikut; (1) Anak diskalkulia mengalami
kesulitan belajar berhitung karena disebabkan oleh kegiatan belajar yang
tidak membangkitkan motivasi dan tidak menarik perhatian siswa. Untuk itu
sebagai pengajar dan pendidik kita harus tahu bagaimana memberikan
layanan yang tepat bagi mereka salah satunya adalah dalam memberikan
pendekatan / strategi pembelajaran yang bisa membangkitkan motivasi
belajar pada anak diskalkulia; (2) Sebagai pengajar dan pendidik dalam
menyampaikan bahan pembelajaran sebaiknya menggunakan media
pembelajaran yang sesuai agar mudah untuk dicerna dan dipahami oleh setiap
anak didik; (3) Dalam mengadakan media pembelajaran tidak perlu
memaksakan diri untuk membeli, tetapi cukup membuat media pembelajaran
yang sederhana selama menunjang tercapainya tujuan pembelajaran; (4)
Bimbingan orang tua dalam kegiatan belajar anak sangat diperlukan dan
sebaiknya diusahakan memakai media meskipun sederhana agar anak tidak

salah dalam memahami pengetahuan yang didapatnya di sekolah atau di
lingkungan sekitarnya; (5) Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai
pertimbangan untuk mengadakan penelitian selanjutnya.
DAFTAR ACUAN
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Kesulitan Belajar.
Jakarta : Rineka Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri, & Zain, Aswan. 2006. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Ibrahim, R & Sukmadinata, Nana Syaodih. 2003. Perencanaan Pengajaran.
Jakarta : Rineka Cipta.
Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Bogor Selatan : Ghalia Indonesia.
Partowisastro, K & Hadisuparto, A. 1982. Diagnosa dan Pemecahan
Kesulitan Belajar Jilid I. Jakarta : Erlangga.
Partowisastro, Koestoer. H. 1982. Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan
Belajar Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Runtukahu, Tombokan. 1996. Pengajaran Matematika Bagi Anak Kesulitan
Belajar. Jakarta : Depdikbud.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung :
PT. Remaja Rosdakarya Offset.
Wahyudi, Ari. 2005. Pengantar Metodologi Penelitian. Surabaya : UNESA
University Press.

© Blog Cewek Biasa, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena