@Ruattchiiihhhhh Menyapa

@Ruattchiiihhhhh Menyapa

Sunday, June 3, 2012 in

Tugas MK : Anak Berkesulitan belajar [ Learning disabilities ]


A.    Pengertian Anak LD (Learning Disabilities )
Anak LD ( Learning Disabilities ) adalah individu yang dalam perkembangannya mengalami gangguan dalam satu atau lebih proses psikologis dasar, disfungsi sistem neurologis, atau gangguan minimal pada sistem syaraf pusat yang berpusat diotak, sehingga tampil dalam gangguan nyata dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berfikir, berbicara, membaca, menulis, berhitung, atau keterampilan sosial. Tidak termasuk kelompok ini adalah mereka yang mengalami kesulitan belajar karena hambatan dalam penglihatan, pendengaran, motorik, keterbelakangan mental, gangguan emosional atau karena kemiskinan, lingkungan, budaya, dan ekonomi sebagai penyebab utama tetapi dapat muncul secara bersamaan. Akibat gangguan tersebut dapat berdampak luas pada kehidupan psikologis, pendidikan, sosial atau dalam kehidupan sehari-hari.
B.     Characteristics Individu LD ( Learning Disabilities )
1.      Hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal yang disebabkan disfungsi neurologia dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Begitu pula anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian. Gangguan ini disebabkan kerusakan kecil pada system saraf pusat dan otak sehingga rentang konsentrasi penderita menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan. Penyebab lainnya dikarenakan temperamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak, serta epilepsi. Atau bisa juga karena gangguan di kepala seperti geger otak, trauma kepala karena persalinan sulit atau pernah terbentur, infeksi, keracunan, gizi buruk, dan alergi makanan.
Contoh :
-          sukar mengontrol aktivitas motorik dan selalu bergerak/menggerakkan sesuatu (tidak bisa diam)
-          berpindah-pindah dari satu tugas ke tugas berikutnya tanpa menyelesaikan terlebih dahulu
-          impulsif

2.      Gangguan Persepsi Motorik adalah gangguan
Contoh :
-          kesulitan motorik halus (sulit mewarnai, menggunting, melipat,   menempel, menulis rapi, memotong, dll )
-          memiliki masalah dalam koordinasi dan disorientasi yang mengakibatkan canggung dan kaku dalam eraknya
3.      Emosi yang Labil adalah mudah terbawa suasana hati (emosi labil), ketidakbahagiaan, atau depresi,  perilaku agresif, membangkang,tidak patuh, berbohong, mencuri, dan kurangnya kendali diri, memukul,berkelahi, mengejek, berteriak, menolak untuk menuruti permintaan orang lain, menangis,merusak, vandalisme, memeras, yang apabila terjadi dengan frekuensi tinggi maka anak dapat dikatakan mengalami gangguan. naik turunnya mood secara tiba tiba ataupun anxiety disorder (sering gelisah).

4.       Masalah Koordinasi adalah
Contoh :
-          Menghindari tugas
Masalah ini muncul karena biasanya anak merasa cepat bosan, sekalipun dengan tugas yang menarik. Tugas-tugas belajar kemungkinan sulit dikerjakan karena anak mengalami hambatan untuk menyesuaikan diri terhadap kegiatan belajar yang diikutinya. Keadaan ini dapat memunculkan rasa frustasi. Akibatnya anak kehilangan motivasi untuk belajar.


5.      Gangguan Perhatian adalah perilaku hilang atau beralihnya perhatian, dan kesulitan mengorganisasi tugas-tugas.
Contoh : Kesulitan dalam mendengar, mengikuti arahan, dan memberikan perhatian adalah merupakan masalah umum pada anak-anak ini. Kesulitan tersebut muncul karena kemampuan perhatian yang jelek. Sebagian anak mempunyai kesulitan dengan informasi yang disampaikan secara visual sebagian lainnya, sebagian kecil mempunyai kesulitan dengan materi pelajaran yang disampaikan secara auditif. Perhatian yang mudah teralihkan sangat menghambat dalam proses belajar.


6.      Impulsif adalah perilaku terburu-terburu yang berlebihan.
Contoh :
-          Menjawab tanpa ditanya
Masalah ini sangat membutuhkan kesabaran guru. Ciri impulsif demikian ini merupakan salah satu sifat yang dapat menghambat proses belajar anak. Keadaan ini menunjukkan bahwa anak tidak dapat mengendalikan dirinya untuk berespon secara tepat. Mereka sangat dikuasai oleh perasaannya sehingga sangat cepat bereaksi, sulit untuk mempertimbangkan atau memikirkan terlebih dahulu perilaku yang akan ditampilkannya. Perilaku ini biasanya menyulitkan yang bersangkutan maupun lingkungannya.

7.      Gangguan mengingat dan berfikir
b.      Gangguan mengingat :
-          Anak berkesulitan belajar kurang mampu menggunakan strategi untuk mengingat sesuatu. Contoh : kepada beberapa anak diperlihatkan suatu daftar kata untukdiingat. Anak normal secara spontan dapat mengkatagorikan kata-kata tersebutagar mudah diingat sedangkan anak berkesulitan belajar tidak mampu melakukan strategi tersebut.
-          Anak berkesulitan belajar mendapat kesulitan untuk mengingat materi secara verbal. Hal ini terjadi karena mereka mempunyai masalah dalam pemahaman bunyi bahasa, sehingga sulit memaknai kata atau kalimat. Apabila anak salah menangkap bunyi bahasa, maka akan menimbulkan kesalahan dalam memaknai kata tersebut. Misalnya anak sulit membedakan bunyi huruf k dan t, sehingga kata kopi kedengarannya seperti topi. Dengan demikian ia sulit memahami ucapan yang mengandung kata kopi dan topi, yang pada akhirnya ia sulit mengingat kalimat yang diucapkan tersebut.
c.       Gangguan Berfikir
-          Berpikir meliputi kemampuan untuk memecahkan masalah sampai kepada pembentukan konsep atau pengertian. Anak berkesulitan belajar mengalami kelemahan dalam masalah tersebut.
-          Contoh : bagaimana menentukan strategi untuk menemukan kembali barang yang hilang. bagaimana mengungkapkan kembali suatu cerita yang telah dibacanya. Anak yang berkesulitan belajar tidak mampu untuk menemukan strategi yang diperlukan untuk kepentingan itu.
-           
8.      Kesulitan Akademik
·         Anak yang mengalami kesulitan belajar menulis (disgrafia)
-          Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai,
-          Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya,
-          Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca,
-          Tulisannya banyak salah/terbalik/huruf hilang,
-          Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.
·         Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)
-          Perkembangan kemampuan membaca terlambat,
-          Kemampuan memahami isi bacaan rendah,
-          Kalau membaca sering banyak kesalahan.
·         Anak yang mengalami kesulitan belajar berhitung (diskalkulia)
-          Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =
-          Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan,
-          Sering salah membilang dengan urut,
-          Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya,
-          Sulit membedakan bangun-bangun geometri.
9.      Miskin Bahasa dapat didefinisikan sebagai gangguan atau kesulitan yang dialami seseorang dalam memperoleh kemampuan mendengar, berbicara, membaca, menulis, yang mencakup penguasaan tentang bentuk, isi serta penggunaan bahasa. Gangguan ganguan ini mungkin disebabkan oleh sistem syaraf pusat atau oleh faktor lain yang berpengaruh secara tidak langsung. Kesulitan-kesulitan berbahasa, misalnya:
-          kesulitan dalam menyampaikan pikiran dalam bentuk bahasa lisan,
-          kesulitan dalam membedakan kata-kata sapaan,
-          kesulitan dalam menuliskan apa yang diinginkannya secara tepat,
-          kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan guru,
-          kesulitan berbicara sekaligus kesulitan dalam bentuk dan penggunaan bahasa. 
10.  Gejala Gangguan Syaraf adalah: disfungsi sistem neurologis, atau gangguan minimal pada sistem syaraf pusat yang berpusat diotak, sehingga tampil dalam gangguan nyata dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berfikir, berbicara, membaca, menulis, berhitung, atau keterampilan sosial. kelainan sistem syaraf yang berimbas pada perubahan tingkah laku (neurobehavioral).
11.  Gangguan Gerak
Contoh:
-          Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali),
-          Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali),
-          Terdapat cacat pada alat gerak.
12.  Masalah Psikologi dan Kurang Pengolahan Informasi
13.  Tidak dapat menyiasati cara belajar yang evektif adalah gangguan dimana anak tidak bisa berfikir untuk mengatasi masalah dalam belajarnya.
14.  Mengalami gangguan berhitung adalah Gangguan Berhitung merupakan suatu gangguan perkembangan kemampuan aritmetika atau keterampilan matematika yang jelas mempengaruhi pencapaian prestasi akademikanya atau mempengaruhi kehidupan sehari-hari anak. Gejala yang ditampilkan di antaranya  ialah : kesulitan dalam mempelajari nama-nama angka, kesulitan dalam mengikuti alur suatu hitungan, kesulitan dengan pengertian konsep kombinasi dan separasi, Inakurasi dalam komputasi, selalu membuat kesalahan hitungan yang sama dll. Kelainan berhitung ini meliputi kemampuan menghitung sangat rendah, tidak mempunyai pengertian bilangan,  bermasalahan dalam bahasa berhitung, tidak bisa mengerjakan simbol-simbol hitungan, dan ganguan berhitungh lainnya. Bisa karena kelainan genetik atau karena gangguan mekanisme kerja di otak.
15.  Gangguan Ketrampilan Sosial adalah Meskipun masalah dalam hubungan teman sebaya tidak ditemukan pada semua anak-anak ini, namun kecenderungan impulsif, kesulitan menguasai diri sendiri, serta toleransi rasa frustasi yang rendah, tidaklah mengherankan jika sebagian anak mempunyai masalah dalam kehidupan sosial, kesulitan bermain dengan aturan, dan aktivitas lainnya yang tidak hanya terbatas di sekolah saja tetapi di lingkungan sosial lainnya.
16.  Kesulitan membaca ( Disleksia ) adalah kelainan neurologis yang menyebabkan kemampuan membaca anak di bawah kemampuan yang semestinya, jika mempertimbangkan tingkat intelegensi, usia, dan pendidikannya. Adapun berbagai teori psikologi dimasa lalu memfokuskan pada kelemahan perseptual sebagai basis disleksia. Sebuah hipotesis populer menyatakan bahwa anak anak yang mengalami masalah membaca melihat huruf huruf dalam posisi sebalik nya atau dalam citra cermin, melihat nya sebagai huruf lain ,
Contoh
-          melihat huruf b sebagai huruf d . meskipun demikin , berbagai temuan yang lebih mutakhir tidak mendukung hipotesis ini ( wolf & melngailis , 1996 ) ; sebagian besar anak membaca huruf secara terbalik ketika pertama kali belajar membaca, namun para individu disleksia sekalipun sangat jarang melihat huruf terbalik setelah berusia 9 atau 10 tahun. Tidak ditemukan antara kesalahan membaca huruf pada usia 5 tahun. Sebagian besar penelitian mengenai disabilitas belajar terfokus pada disleksia mungkin karna disleksia merupakan gangguan yang paling terjadi dalam kelompok gangguan ini . meskipun berbagai study mengenai gangguan berhitung mulai dilakukan, literatur dalam bidang ini berkembang lebih lambat.
-          kesulitan belajar membaca sering memperlihatkan sikap-sikap kebiasaan membaca yang tidak wajar antara lain adanya gerakan-gerakan yang penuh ketegangan seperti mengernyitkan kening, gelisah, irama suara yang meninggi, atau berkali-kali menggigit bibir. Mereka juga sering menunjukkan perasaan tidak aman dengan memperlihatkan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau mencoba melawan guru.
17.  Kesulitan Menulis ( Disgrafia ) adalah Kesulitan khusus di mana anak tidak bisa menuliskan/mengekspresikan pikirannya ke dalam bentuk tulisan, karena mereka tidak bisa menyusun huruf/kata dengan baik dan mengkoordinasikan motorik halusnya (tangan) untuk menulis. Pada anak-anak umumnya, kesulitan ini bisa terlihat saat anak mulai belajar menulis. Kesulitan ini tidak tergantung kemampuan lainnya. Seseorang bisa sangat fasih dalam berbicara dan keterampilan motorik lainnya, tapi mempunyai kesulitan menulis.
Contoh :
-          kesulitan dalam mengharmonisasikan ingatan dengan penguasaan gerak tangannya ketika menuliskan angka atau huruf.
18.  Kesulitan Menghitung ( Diskalkulia ) dikenal juga dengan istilah “math difficulty” karena menyangkut gangguan pada kemampuan kalkulasi secara matematis. Kesulitan ini dapat ditinjau secara kuantitatif yang terbagi menjadi bentuk kesulitan berhitung (counting) dan mengkalkulasi (calculating). Anak yang bersangkutan akan menunjukkan kesulitan dalam memahami proses-proses matematis. Hal ini biasanya ditandai dengan munculnya kesulitan belajar dan mengerjakan tugas yang melibatkan angka ataupun simbol matematis. Atau juga sacara singkat nya ketidakmampuan kalkulasi secara matematis atau istilah lainnya, math difficulty. Bentuk kesulitan yang dialami anak adalah dalam berhitung (counting) dan mengalkulasi (calculating). Anak juga kesulitan mengonseptualkan atau memahami proses-proses matematis.
Contoh :
-          kesulitan dengan waktu, pengukuran, dan pemikiran sebab akibat.
-          kesulitan dalam memahami konsep matematika
-          tidak mampu memahami konsep-konsep hitung aau mengenali symbol-simbol aritmatika (tambah, kurang, bagi, kali, akar).
-          mengalami gangguan dan kemampuan persepsi visual dan motorik.
-          anak hanya dapat apabila ia memegangnya secara berurutan.
-          gangguan orientasi ruang, ketika anak sulit mengenali konsep atas bawah, tinggi rendah.
C.     Learning Characteristics
a.       Membaca
b.      Mathematika
c.       Menulis Bahasa : Menuliskan huruf-huruf dengan urutan yang salah dalam sebuah kata
-          Tidak menuliskan sejumlah huruf dalam kata-kata yang ingin ia tulis
-          Menambahkan huruf-huruf pada kata-kata yang ingin ia tulis
-          Mengganti satu huruf dengan huruf lainnya, sekalipun bunyi huruf-huruf tersebut tidak sama
-          Menuliskan sederet huruf yang tidak memiliki hubungan sama sekali dengan bunyi kata-kata yang ingin dia tuliskan
-          Mengabaikan tanda-tanda baca yang terdapat dalam teks-teks yang sedang dibaca
d.      Berbicara Bahasa
-          Tidak lancar atau ragu-ragu dalam membaca
-          Membaca tanpa irama (monoton)
-          Sulit mengeja
-          Kekeliruan mengenal kata; Penghilangan, penyisipan, pembalikan, salah ucap, pengubahan tempat, dan membaca tersentak-sentak,
-          kesulitan memahami tema paragraf atau cerita
-          banyak keliru menjawab pertanyaan-yang terkait dengan bacaan
-          serta pola membaca yang tidak wajar pada anak.
e.       Ingatan
Anak kesulitan belajar juga mengalami kesulitan dalam mengingat. Mereka memiliki kesulitan dalam mengolah informasi sehingga dapat disimpam dalam memori jangka panjang. Sebagai contoh, siswa penderita keterlambatan balajar akan “belajar” dengan menatap buku catatan atau membaca daftar kata-kata sukar terus-menerus, di mana hal ini merupakan strategi belajar yang kurang efektif. Akibatnya, kesulitan dalam mengingat juga akan berpengaruh pada memori jangka panjang seseorang ketika ia harus menemukan serta mengingat hal dalam waktu singkat.

f.       Metakognisi
Anak kesulitan belajar, juga memiliki peluang untuk menderita kelemahan dalam bidang metakognisi, yakni kesadaran tentang bagaimana individu berpikir serta memantau apa yang dipikirkannya. Hasil riset menyatakan bahwa penderita kesulitan belajar yang tidak mengetahui strategi kognitif efektif agar sanggup menerima, mengolah, menyimpan, serta memperlihatkan bahwa ia mengalami suatu informasi. Kelemahan dalam bidang ini pada akhirnya, akan memengaruhi kemampuan mereka untuk menerapkan suatu strategi dalam tempat serta waktu yang tepat. Demikian halnya dengan keahlian mereka dalam memilih serta memantau penerapan strategi itu.
g.      Atribusi
h.      Masalah Sosial dan emosional
-          Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh,menentang, berpura-pura, dusta keras kepala, malas, tak peka, tak bertanggung jawab, tak mau bekerja sama dan sebagainya.
-          Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti: membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
-          Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti: pemurung,mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalammenghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya

i.        Masalah Perhatian dan hiperaktif
didefinisikan sebagai anak yang mengalami defisiensi dalam perhatian, tidak dapat menerima implus-implus dengan baik, suka melakukan gerakan-gerakan yang tidak terkontrol, dan menjadi lebih hiperaktif. Adapun kriteria anak hiperaktif pada masa sekolah adalah sebagai berikut :
-          Mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian (defisit dalam pemusatan perhatian), sehingga anak tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya secara baik.
-          Jika di ajak bicara siswa hiperaktif, tidak dapat memperhatikan lawan bicaranya (bersikap apatis terhadap lawan bicaranya).
-          Mudah terpengaruh oleh stimulus yang datang dari luar dirinya.
-          Tidak dapat duduk tenang walaupun dalam batas waktu lima menit dan suka bergerak serta selalu tampak gelisah.
-          Sering mengucapkan kata-kata spontan (tidak sadar dan cenderung negatif).
-          Sering melontarkan pertanyaan yang tidak bermakna kepada guru selama pelajaran berlangsung.
-          Tidak mengikuti petunjuk atau gagal dalam menyelesaikan pekerjaan sekolah (sering tidak mengerjakan PR, ulangan harian tugas atau takut mengahadapi ujian).
-          Sering menghindar, tidak suka atau enggan terlibat dalam pekerjaan sehari-hari yang dinilai membebani.










S.J, Dorst., Wanci, Geraldine.K., dkk. 2008. Perilaku anak usia dini. Yogyakarta : Kanisius.
http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/05/29/menyiasati-penderita-adhd-dengan-kelembutan/